Fadhl Muhammad Firdaus Pimpin Matahari Pagi Indonesia DIY, Dorong Gerakan Kolaboratif dan Berdampak
JOGJA NEWS | Fadhl Muhammad Firdaus resmi dilantik sebagai Ketua Umum Matahari Pagi Indonesia (MPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelantikan dilaksanakan pada Jumat malam (4/9/2026) di Pendopo Parasamya, Sleman, DIY.
Dalam kepemimpinannya, Fadhl menegaskan komitmen menjadikan MPI sebagai organisasi yang menghadirkan gagasan, gerakan, dan solusi nyata bagi masyarakat. Fadhl mengatakan, nama Matahari Pagi memiliki makna filosofis sebagai simbol harapan. Matahari hadir membawa cahaya setelah gelapnya malam, sehingga MPI diharapkan mampu menjadi cahaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Matahari pagi adalah simbol harapan. Sebagaimana matahari yang hadir membawa cahaya setelah gelapnya malam, maka organisasi ini harus menjadi cahaya yang menghadirkan gagasan, gerakan, dan solusi bagi berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat,” ujar Fadhl dalam sambutannya.
Menurut dia, perjuangan organisasi tidak semata-mata berkaitan dengan nama, jabatan, maupun eksistensi kelembagaan. Lebih dari itu, MPI harus mengedepankan nilai keikhlasan dalam pengabdian, keberanian dalam bergerak, serta konsistensi dalam memberikan manfaat, “Sejatinya, sebuah organisasi tidak akan dikenang dari seberapa besar namanya, tetapi dari seberapa besar dampaknya,” katanya.
Untuk itu, Fadhl menyampaikan empat fokus yang akan menjadi manifesto perjuangan MPI DIY. Pertama, memperkuat nilai pengabdian dan kepedulian sosial dengan menjadikan organisasi sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.
Kedua, membangun generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki semangat kepemimpinan. Ketiga, membangun organisasi yang terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Keempat, menjaga persatuan dan kebersamaan dengan mengedepankan kekuatan kolektif.
Fadhl menilai perjalanan organisasi ke depan tidak selalu mudah. Perbedaan pandangan dan dinamika organisasi merupakan bagian yang harus dihadapi bersama, “Selama kita memiliki tujuan yang sama dan dilandasi niat yang baik, maka setiap tantangan dapat kita hadapi bersama,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh jajaran MPI DIY menjadikan organisasi tersebut sebagai rumah perjuangan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, bergerak, berkarya, dan mengabdi, “Mari kita buktikan bahwa Matahari Pagi Indonesia bukan hanya hadir dalam kata-kata, tetapi hadir dalam tindakan nyata. Bukan hanya berbicara perubahan, tetapi menjadi pelaku perubahan,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Wildan Solichin, mengatakan pembangunan daerah tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Organisasi kemasyarakatan, menurutnya, memiliki peran penting dalam menghimpun kepedulian, potensi warga, solidaritas, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.
“Membangun tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, namun juga melibatkan ormas. Ormas menjadi ruang menghimpun kepedulian, potensi warga, solidaritas dan jembatan komunikasi dengan pemerintah. Saya berharap MPI dapat mengambil bagian dalam membangun Sleman,” katanya.
Ia juga mendorong MPI memperkuat kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan unsur terkait lainnya. Menurutnya, pembangunan masyarakat tidak cukup hanya mengejar kemajuan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat kebudayaan, toleransi, serta kepedulian dan semangat berbagi antarsesama, “Rawat komunikasi untuk membangun Sleman,” pesannya.
Sementara itu, amanat Gubernur DIY yang dibacakan Kepala Biro Hukum Setda DIY Cahyo Widayat menekankan bahwa ukuran organisasi bukan terletak pada jumlah orang yang tergabung di dalamnya, melainkan pada manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Cahyo menyampaikan tiga nilai penting yang diharapkan menjadi landasan kepengurusan MPI DIY, yakni kehadiran, kebermanfaatan, dan kebersamaan.
Kehadiran dimaknai sebagai kepedulian terhadap masyarakat. Kebermanfaatan berarti kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata, sedangkan kebersamaan merupakan kemampuan melewati berbagai sekat kelompok, “Semoga kepengurusan yang dilantik dapat menjadi ruang inklusif, produktif, dan berpihak kepada kemanusiaan,” demikian amanat Gubernur DIY yang dibacakan Cahyo.
???????????????????????????????????? ???????????????????? ????????????????????
Dalam kesempatan tersebut, pendiri MPI sekaligus Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak menekankan pentingnya persatuan dan kolaborasi dalam membangun organisasi maupun bangsa. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan karakter masyarakat Yogyakarta yang memiliki hubungan kuat dengan alam dan kebudayaan.
Dahnil juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran ayat 102-104 yang dibacakan dalam acara tersebut. Menurutnya, bangsa Indonesia sejak awal dibangun melalui gagasan untuk menyatukan berbagai perbedaan. Ia mencontohkan para pendiri bangsa yang berusaha mempertemukan berbagai gagasan dan kelompok untuk membangun Indonesia.
Dahnil mengatakan, era saat ini membutuhkan pola kolaborasi yang tidak menegasikan kelompok lain. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai semangat blue ocean management, yakni membangun ruang kerja sama dan menciptakan nilai baru tanpa harus saling meniadakan, “Kita tidak akan besar bila tidak bisa merangkai perbedaan. Inilah eranya,” ujar Dahnil.
Ia mengatakan MPI sejak awal dibangun sebagai gerakan yang mempersatukan berbagai elemen dengan latar belakang berbeda. Karena itu, kepengurusan MPI DIY diharapkan tidak membatasi diri berdasarkan latar belakang organisasi maupun pilihan politik, “Untuk ketua umum MPI DIY, jangan sungkan-sungkan merangkul siapapun tanpa melihat latar organisasinya, parpolnya juga macam-macam. Kami kumpulkan semua di sini sebagai gerakan akumulatif advantage. Ini yang harus dilakukan DIY,” katanya.
Dahnil menegaskan MPI bukan gerakan politik, melainkan gerakan kebudayaan yang bertujuan mengakumulasi berbagai kebaikan dari pengalaman dan kepemimpinan sebelumnya. Menurutnya, masyarakat tidak semestinya terus-menerus menyalahkan generasi atau pemimpin sebelumnya. Ia mendorong agar setiap generasi mengambil berbagai hal baik dari kepemimpinan terdahulu untuk kemudian dikembangkan, “Ambil yang lebih dari para pemimpin sebelumnya, semua kebaikan diambil. Mikul duwur mendem jero,” ujarnya.
Editor :JogjaNews
Source : Jogja News